Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) menggelar kegiatan Sosialisasi Tata Cara Berbusana Adat Samawa pada hari Sabtu, 27 Desember 2025 / 7 Rajab 1447H sebagai upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya masyarakat Samawa. Kegiatan ini disampaikan oleh tokoh adat Samawa, Bapak H. Hasanuddin, S.Pd, dan diikuti oleh berbagai unsur masyarakat.
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa Pangkenang Adat Samawa merupakan pakaian adat yang tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga mengandung nilai filosofi, simbol sosial, serta mencerminkan kedudukan dan peran pemakainya. Adapun Pangkenang dibagi menjadi 3 katagori yakni : 1) Pangkenang Boat Adat, yakni Kelengkapan Upacara Adat Daur Hidup seperti: Pangkenang Baterok, Basunat, Barodak dan Pangantan; 2) Pangkenang Tokal Adat, yakni dikenal juga sebagai Pangkenang Kanadi yang dikenakan selaras Jabatan seperti Sultan, Ranga, Kadimungan dan Nyaka; 3) Pangkenang Adat, yakni Pakaian yang menjadi Identitas Khas Tau Samawa.
Materi sosialisasi selanjutnya pengenalan jenis-jenis Pangkenang Adat Samawa, baik untuk kaum pria (Tau Salaki) maupun kaum wanita (Tau Sawai). Untuk pria, pangkenang terdiri atas Sapu Alang, Katopong, Pabasa Alang, Lamung, dan Kere Alang yang dikenakan dengan tata cara khusus. Sementara bagi wanita, dikenalkan kelengkapan seperti Cipo Cila sebagai penutup kepala khas Samawa, Sapu Kidasanging, Sarangan, Leang Pabarat, Kere Alang, serta berbagai jenis Lamung sesuai usia dan status sosial.
Selain penyampaian materi secara teoritis, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi praktik langsung mengenakan Pangkenang Adat Samawa. Pada sesi ini, peserta diperlihatkan dan dibimbing secara langsung mengenai tata cara pemakaian setiap bagian pangkenang, mulai dari penutup kepala, teknik berselendang, cara bersarung hingga penyesuaian busana sesuai peran dan tingkat keformalan acara. Sesi praktik ini mendapat perhatian khusus karena memberikan pemahaman yang lebih nyata dan aplikatif kepada peserta.
Lebih lanjut, peserta juga diperkenalkan dengan ragam pangkenang berdasarkan kelompok usia dan situasi pemakaian, mulai dari pangkenang untuk kalangan muda seperti Lonas Pabite, Lonas Panempu, dan Salonang Antin, hingga pangkenang dewasa non-formal seperti Rama Nempu, Pasak Panempu, Lante Lumar dan Batedung Tunang. Sementara untuk kegiatan resmi dan formal, dijelaskan pangkenang Pajatu Juran, Pasak Kanadi, Manca Kanadi, dan Lante Gadu yang diperuntukkan bagi tokoh adat dan pejabat.
Melalui kegiatan sosialisasi yang dipadukan dengan praktik langsung ini, LATS berharap masyarakat Samawa, khususnya generasi muda, tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mampu mengenakan Pangkenang Adat Samawa dengan benar dan sesuai kaidah adat. Upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga serta memperkuat komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Samawa di tengah arus modernisasi.
Ketua Pajatu Adat LATS Menghadiri FGD Motif dan Corak Kre Alang Dukung Pendaftaran KIK di Sumbawa
LATS Mengadakan Lokakarya Penerapan Nilai-Nilai Adat bagi Masyarakat Tana Samawa
LATS Gelar Sosialisasi Tata Cara Berbusana Adat Sumbawa dan Dialog Antar Etnis